Rabu, 08 Desember 2010

Hati yang Tertinggal

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Waktu itu, kurang lebih pukul 19.30 WIB, empat orang gadis remaja berjalan bersamaan menuruni lantai dua sebuah gedung di daerah Depok, Jawa Barat. Selama perjalanan menuju tempat parkir motor dan halte bus, ada lah sebuah obrolan singkat, namun cukup mengena bagi salah satu di antara mereka.

W : Alhamdulillah, kita UAS cuma tiga hari lho.. tanggal 22 dah selesai. Eh, I, kamu mau balik kapan ?
I   : Wah, aku masih ga tau mau pulang ke mana dulu ..
W : Eh, tapi aku juga masih belum jelas ding, mau kapan pulangnya.. pinginnya tanggal 24 sama temen"ku yg di STAN.
F  : Kalo aku sih udah terobati, waktu pulang kemarin. Bukannya kamu sering pulang, ya Buk ? mau pulang lagi ??
I   : Iya, dirimu kan sering pulang ..
W : Hehe, iya.. tapi sayangnya waktu aku pulang kemarin, aku belum berhasil membawanya kemari. Dia masih tertinggal di sana. Hatiku masih ada di sana (menerawang kembali ke kota itu..)
H  : Wah, ragaku memang di sini tapi hatiku ada di sana, ya Mbak ?
W : Mungkin  begitu, hehe..

yah, begitulah obrolan singkat yang terjadi...
hati itu memang masih tertinggal di sana,, delapan jam waktu yang harus ditempuh dengan kereta api bisnis senja atau fajar utama atau sepuluh jam dengan kereta ekonomi bengawan. salah satu remaja itu memang kini sudah memiliki kesibukan yang baru di tempat yang baru pula. namun, ia sendiri masih merasa bahwa hatinya masih tertinggal di kota itu -dan ini bukan berarti ia tak pernah menjalani segala yang ada di sini sepenuh hati, ya- di gedung yang sudah tua dengan pohon cemara dan semangat Jayamahe yang pernah diberikan. tempat yang tidak pernah sepi dan selalu hangat. bahkan ketika salah satu remaja tersebut sudah benar-benar meninggalkan tempat itu, banyak kenangan yang kembali muncul dan benar-benar tak bisa untuk tidak mengingat-ingatnya kembali. senyum, salam, sapa, sopan, santun, dan sederhana selalu ditekankan dalam tempat itu. tidak hanya gedung tua di pojok perempatan yang sangat terkenal dengan "teladan"nya, namun juga sebuah bangunan yang megah dengan taman bermain dan selalu ramai oleh orang-orang yang bersembahyang di dalamnya, orang-orang yang duduk dalam sebuah majelis untuk menuntut ilmu, yang berada di tengah-tengah kota (anggap saja tengah kota). di sana gadis itu mendapatkan banyak ilmu, teman baru, bahkan teman lama pun ia temukan di sana. banyak hal yang ingin ia lakukan di keduanya, namun sungguh Allah telah memilihkan jalan untuknya. tetapi, tak dapat ia pungkiri, meskipun jarak tersebut sangat jauh ia tak pernah berkeberatan untuk selalu berusaha kembali, meskipun sering kali ia pulang untuk mengunjunginya, ia selalu mengharapkan kepulangan yang berikutnya. hal tersebut karena hati itu masih tertinggal di sana.. benar-benar masih tertinggal di sana.

2 komentar:

  1. sudut pandang: orang ketiga serba tahu.
    galau rupanya. hhe..

    BalasHapus